TINDO.ID | KONAWE – Di tengah riuhnya desakan pembangunan smelter terhadap PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), suara berbeda justru datang dari wilayah lingkar tambang itu sendiri.
Dimas Nduluka, Ketua Umum HIPPMAL yang juga warga asli Desa Lalomerui, menegaskan bahwa tuntutan yang mengatasnamakan masyarakat Routa tidak sepenuhnya mencerminkan realitas di lapangan.
Ia menyebut, sebagian opini yang berkembang cenderung dibangun tanpa dasar kuat dan tidak mewakili suara warga terdampak langsung.
“Banyak narasi yang beredar tidak sesuai fakta. Kami yang tinggal di sini justru melihat kondisi yang berbeda,” ujarnya.
Menurut Dimas, polemik smelter seharusnya ditempatkan dalam kerangka kebijakan nasional. Pemerintah pusat saat ini tengah memberlakukan moratorium smelter berbasis teknologi RKEF melalui PP Nomor 28 Tahun 2025.
Kondisi ini, kata dia, membuat pembangunan smelter tidak bisa dilakukan secara sepihak, meski ada dorongan dari berbagai pihak.
Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa PT SCM tidak tinggal diam. Perusahaan disebut aktif membuka ruang dialog dengan pemerintah dan masyarakat, serta mulai menjajaki alternatif investasi smelter berbasis teknologi HetsPal yang lebih ramah lingkungan.
Bagi masyarakat Routa, isu lingkungan menjadi perhatian utama. Dimas menegaskan bahwa warga tidak ingin pembangunan industri justru membawa dampak buruk bagi ruang hidup mereka.
“Kami tidak menolak pembangunan, tetapi kami menolak yang merusak lingkungan kami,” tegasnya.
Ia juga membantah tudingan bahwa perusahaan mengabaikan tanggung jawab terhadap lahan masyarakat. Menurutnya, proses kompensasi telah dilakukan secara transparan dengan nilai signifikan.
Lebih jauh, ia menyebut kehadiran PT SCM telah membawa perubahan nyata, mulai dari akses jalan yang lebih baik hingga peluang kerja dan program pemberdayaan masyarakat.
Di akhir pernyataannya, Dimas mengajak semua pihak untuk menahan diri dan tidak membangun opini tanpa data.
“Kalau bicara Routa, mari datang dan lihat langsung. Jangan hanya bersuara dari jauh,” pungkasnya.
Laporan: Redaksi













