TINDO ID | KONAWE – Kenaikan tarif sewa lapak menjelang pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2026 menuai keluhan dari sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Konawe.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, biaya sewa lapak yang sebelumnya berada pada kisaran Rp300 ribu per brand kini meningkat menjadi Rp600 ribu. Kenaikan tersebut memicu kekhawatiran para pedagang terkait potensi keuntungan yang akan diperoleh selama kegiatan berlangsung.
Salah seorang pedagang yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku keberatan dengan besaran tarif yang diberlakukan. Menurutnya, masa pelaksanaan kegiatan yang hanya berlangsung sekitar enam hari tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan.
“Terlalu mahal, masa sewanya dari Rp300 ribu naik jadi Rp600 ribu. Baru kegiatannya cuma enam hari,” keluhnya.
Para pelaku UMKM menilai MTQ merupakan momentum yang baik untuk memperkenalkan produk lokal dan meningkatkan omzet penjualan. Namun, tingginya biaya sewa lapak dinilai dapat mengurangi minat pelaku usaha kecil untuk ikut berpartisipasi.
Mereka berharap pemerintah daerah dan pihak pengelola dapat mempertimbangkan kembali kebijakan tarif sewa tersebut agar lebih terjangkau dan tidak membebani pedagang kecil.
Sementara itu, Ketua Panitia MTQ Sultra 2026, Marjuni Ma’mir, mengaku belum mengetahui detail mengenai tarif sewa lapak yang menjadi sorotan para pelaku UMKM.
“Saya tidak tahu. Nanti dikonfirmasi ke pengelolanya langsung,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Para pedagang berharap adanya komunikasi yang lebih terbuka antara pengelola dan pelaku UMKM sehingga pelaksanaan MTQ tidak hanya sukses sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat lokal.
Laporan: Redaksi













