TINDO.ID | KONAWE – Di balik papan larangan yang berdiri mencolok di gerbang Kelurahan Routa, ribuan warga kini menghadapi kenyataan pahit: terisolasi dari bantuan dan program pemberdayaan yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Konflik yang bermula dari tuntutan pembangunan smelter oleh sekelompok warga berubah menjadi aksi pemblokiran aktivitas PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Sejak awal 2026, aktivitas perusahaan terhenti, diikuti macetnya berbagai program sosial.
Bagi warga di Kelurahan Routa, Desa Tirawonua, dan Desa Parudongka, dampaknya terasa nyata. Bantuan sembako Idul Fitri tak lagi mudah didapat, program keagamaan terhenti, hingga pendampingan ekonomi yang sebelumnya berjalan kini hilang.
Dalam situasi penuh ketegangan, distribusi bantuan bahkan harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Perangkat desa terpaksa mengambil risiko agar bantuan tetap sampai ke tangan warga.
Lebih dari 3.000 jiwa terdampak. Angka ini mencerminkan sebagian besar populasi Kecamatan Routa yang kini harus bertahan di tengah ketidakpastian.
Ketua FPMR, Haedariah, menyebut kondisi ini sebagai ironi. Menurutnya, perjuangan atas nama kesejahteraan justru berbalik merugikan masyarakat.
“Jangan bungkus kepentingan pribadi dengan narasi kesejahteraan rakyat. Yang terjadi justru masyarakat kecil yang kehilangan haknya,” ujarnya.
Ia juga mengungkap dugaan adanya kepentingan tersembunyi di balik konflik, mulai dari persoalan kompensasi lahan hingga keterlibatan pihak luar yang memperkeruh situasi.
Hingga kini, belum ada penyelesaian konkret dari pemerintah maupun aparat. Warga pun hanya bisa berharap konflik segera berakhir.
Di tengah kebuntuan, rencana dialog mulai digagas. Harapannya sederhana: membuka kembali akses, memulihkan program, dan mengembalikan harapan masyarakat Routa.
Laporan: Redaksi













